Sabtu, 09 Juli 2011

RAMAYANA 12

RAMAYANA 12


http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/ramayana/images/ramayana12.jpg

12. Pengembaraan di Hutan Dandaka


Raja Dasarata semakin pedih hatinya ketika mendengar tuntutan Kaikayi agar Rama beserta Sita istrinya diusir dari istana dan dibuang kedalam hutan Dandaka selama empat belas tahun.

Hati Dasarata amat bingung karena persiapan penobatan Rama menjadi raja telah selesai. Maka pada keesokan harinya ketika hari masih pagi buta, Rama dipanggil menghadap. Ketika Rama datang bersembah di hadapannya, Raja Dasarata tak sanggup menyampaikan isi hatinya.

Maka Kaikayilah yang memerintahkan Rama agar Rama bersama Sita meninggalkan istana dan pergi mengembara dalam pembuangan di hutan Dandaka selama empat belas tahun. Wajah Rama tetap tenang mendengar perintah itu. Sebagai satria ia akan memenuhi perintah ayahnya, betapapun berat perintah itu.

Rama menyembah, lalu minta diri dari ayahandanya. Dengan tenang pula ia menyampaikan perintah itu kepada Sita, lalu bersiap untuk berangkat. Dengan diiringi ratap tangis para abdi istana maka berangkatlah Rama dan Sita menuju hutan Dandaka. Laksamana yang amat menyintai Rama kakaknya, ikut pula dalam pengembaraan itu.

12. The Adventures in Dandaka Forest


King Dasarata felt very sad when Kaikayi demanded that Rama and Sita leave the palace and live in Dandaka forest for fourteen years.

King Dasarata did not know what to say because the preparation for Rama's inauguration to be a King was finished. Then, the next day in the early morning he asked Rama to see him. When he met Rama, he could not speak his mind.

Then Kaikayi ordered Rama and Sita leave the palace and go to Dandaka forest to live there for fourteen years. Rama was comppsed listening this order. As a warrior, he would follow any order from his father, however difficult it was.

Rama asked permission from his father to leave. Still with composure he told Sita about the order, then they prepared to leave the palace. With tears from the palace officials they went to Dandaka Forest. Laksamana, who loved his brother very much, accompanied them.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar